Kediri — Suasana berbeda mewarnai kegiatan Diseminasi Hasil Bimbingan Teknis 1 Pengawas 1 Madrasah (Piloting Kurikulum Berbasis Cinta/KBC) yang digelar di MTsN 1 Kota Kediri, Selasa (15/9/2026). Selain menjadi ajang berbagi praktik baik implementasi KBC dan penguatan supervisi digital melalui MAGIS (Madrasah Digital Supervision), kegiatan ini juga ditandai dengan peresmian berbasis digital menggunakan layar sentuh.

Peresmian tersebut dilakukan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kediri, H. Ahmad Zamroni, didampingi lima pengawas Kemenag Kota Kediri. Sentuhan pada layar digital menjadi simbol dimulainya kegiatan sekaligus merepresentasikan semangat transformasi digital yang terus dikembangkan di lingkungan MTsN 1 Kota Kediri.
Penggunaan layar sentuh dalam prosesi peresmian memberikan nuansa modern dan inovatif. Tidak sekadar seremoni, teknologi menjadi bagian dari cara madrasah membangun budaya kerja dan layanan yang semakin digital.
MTsN 1 Kota Kediri menjadi tuan rumah kegiatan yang diikuti 48 peserta, yang merupakan perwakilan madrasah piloting KBC dengan komposisi 1 kepala madrasah dan 5 guru dari setiap madrasah. Kegiatan ini menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dalam memperkuat implementasi KBC.

Dari Peresmian Digital Menuju Supervisi Digital
Semangat digital yang ditampilkan dalam prosesi peresmian selaras dengan materi utama kegiatan, yaitu pemanfaatan MAGIS (Madrasah Digital Supervision).
MAGIS diarahkan untuk mendukung pemantauan proses pembelajaran secara sistematis, evaluasi, refleksi, serta tindak lanjut peningkatan mutu berdasarkan kondisi nyata pembelajaran. Materi menegaskan bahwa MAGIS bukan sekadar sarana administrasi, tetapi menjadi alat untuk membaca kondisi pembelajaran secara objektif.

Dalam implementasi KBC, MAGIS menjadi bagian dari siklus implementasi → monitoring → refleksi dan evaluasi → tindak lanjut. Data hasil supervisi digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan guru sehingga pembinaan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

KBC Menguatkan Nilai, MAGIS Menguatkan Mutu
Kegiatan diseminasi juga menguatkan pemahaman bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar menambahkan kata “cinta” dalam perangkat pembelajaran. KBC diarahkan untuk membangun pendidikan yang humanis, berkarakter, menghargai martabat manusia, peduli lingkungan, dan berlandaskan spiritualitas.
Nilai tersebut diwujudkan melalui Panca Cinta: Cinta Allah dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Alam dan Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama Manusia, serta Cinta Tanah Air.
Sementara itu, supervisi diarahkan untuk bergeser dari control menjadi coaching, finding fault menjadi finding solution, inspection menjadi reflection, dan administrasi menjadi perbaikan mutu.
Melalui sinergi tersebut, supervisi MAGIS diarahkan mengikuti siklus Plan, Do, Observe, Record, Reflect, Follow Up, dan Improve, sehingga hasil supervisi tidak berhenti pada data, tetapi berlanjut menjadi refleksi, pendampingan, dan perbaikan pembelajaran.
Simbol Transformasi Madrasah
Peresmian dengan layar sentuh menjadi simbol menarik dari keseluruhan kegiatan: transformasi digital tidak hanya berbicara tentang perangkat teknologi, tetapi tentang perubahan cara bekerja, melakukan supervisi, mengambil keputusan, dan meningkatkan mutu pembelajaran.
KBC memberikan arah nilai dan budaya, pembelajaran mendalam memberikan pendekatan, MAGIS memberikan data dan ruang refleksi, sedangkan supervisi menghadirkan pendampingan dan tindak lanjut. Kesemuanya bermuara pada terwujudnya madrasah yang berkualitas, humanis, aman, nyaman, dan penuh cinta.

Pengawas Dampingi Praktik Pengisian MAGIS
Usai pembukaan dan prosesi peresmian digital, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh para pengawas Kementerian Agama Kota Kediri. Materi diawali oleh Bapak Masrukin kemudian dilanjutkan oleh Bapak Sucipto dan Ibu Emy Rosidah.

Materi yang disampaikan menguatkan pemahaman peserta mengenai keterkaitan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), pembelajaran mendalam, dan supervisi digital melalui MAGIS. Dalam materi yang disampaikan Masrukin, MAGIS ditempatkan sebagai sarana untuk memantau kondisi nyata pembelajaran, melakukan refleksi, serta menjadi dasar penyusunan tindak lanjut peningkatan mutu.

Tidak berhenti pada pemaparan materi, para pengawas kemudian memandu langsung guru dan kepala madrasah dalam praktik pengisian aplikasi MAGIS. Peserta mengikuti tahapan penggunaan instrumen secara langsung dengan pendampingan, sehingga mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memperoleh pengalaman praktis dalam menggunakan platform supervisi digital tersebut.

Pendampingan ini sekaligus menekankan pentingnya kejujuran reflektif dalam pengisian MAGIS. Guru diarahkan untuk mengisi instrumen berdasarkan kondisi nyata di kelas, bukan sekadar menggambarkan kondisi ideal. Data yang dihasilkan selanjutnya diharapkan dapat menjadi dasar bagi kepala madrasah dan pengawas dalam melakukan refleksi, memberikan umpan balik, serta menentukan pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan guru.

Kegiatan praktik berlangsung secara interaktif. Para guru dan kepala madrasah dapat mengikuti tahapan akses sistem, memahami instrumen supervisi, melakukan simulasi pengisian data, hingga membaca hasil supervisi dan menyiapkan tindak lanjut. Tahapan praktik tersebut sejalan dengan rancangan pembinaan MAGIS yang menempatkan praktik, refleksi, dan tindak lanjut sebagai bagian penting dari implementasi.

Dengan pendampingan langsung para pengawas, kegiatan diseminasi menjadi semakin aplikatif. Teknologi tidak hanya diperkenalkan, tetapi langsung digunakan; supervisi tidak hanya dibicarakan, tetapi dipraktikkan; dan data tidak hanya dikumpulkan, tetapi diarahkan untuk menjadi dasar perbaikan mutu pembelajaran.

Satu sentuhan membuka kegiatan.
Satu data menguatkan refleksi.
Satu komitmen menggerakkan perubahan.
Bersama KBC dan MAGIS, madrasah bergerak menuju transformasi digital dan budaya mutu. (Tim Humas Masansa)