Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang dirayakan setiap tahunnya bukan sekadar rutinitas atau seremonial belaka. Secara logika, sudah sepantasnya umat Islam merasa gembira dengan kelahiran manusia paling mulia. Jangankan seorang Nabi, orang tua mana pun pasti akan bergembira saat anaknya lahir, bagaimanapun kondisi fisik sang anak.
Bahkan, Abu Lahab, paman Nabi yang di kemudian hari menjadi penentang paling keras, pernah sangat bergembira saat mendengar kelahiran Muhammad. Ketika budaknya, Tsuwaibah, membawa kabar gembira tentang kelahiran putra dari saudaranya (Abdullah) pada hari Senin, Abu Lahab dengan penuh sukacita membebaskan Tsuwaibah sebagai bentuk rasa syukur. Akibat kegembiraannya menyambut kelahiran Nabi ini, Ibnu Abbas menceritakan bahwa siksa Abu Lahab di neraka diringankan setiap hari Senin.
Diceritakan oleh Suhaili bahwa Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bary berkata
أَنَّ الْعَبَّاسَ قَالَ لَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ رَأَيْتُهُ فِي مَنَامِي بَعْدَ حَوْلٍ فِي شَرِّ حَالٍ فَقَالَ مَا لَقِيتُ بَعْدَكُمْ رَاحَةً إِلَّا أَنَّ الْعَذَابَ يُخَفَّفُ عَنِّي كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ قَالَ وَذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَكَانَتْ ثُوَيْبَةُ بَشَّرَتْ أَبَا لَهَبٍ بِمَوْلِدِهِ فَأَعْتَقَهَا
Artinya: bahwa Ibnu Abbas berkata, ketika Abu Lahab mati, setahun kemudian aku melihatnya dalam mimpi dalam kondisi yang buruk. Ia berkata: aku setelah meninggalkan kalian tidak pernah merasakan jeda istirahat dari siksa, melainkan azab diringankan setiap hari Senin. Abu Lahab menjelaskan: Itu karena saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari Senin, waktu ia diberi kabar oleh Tsuwaibah atas kelahirannya, maka Abu Lahab membebaskannya (Tsuwaibah).
Berita Gembira yang telah Dinantikan
Kelahiran Nabi Muhammad saw. bukanlah sesuatu yang mendadak, melainkan telah menjadi berita gembira yang viral di kalangan para Nabi terdahulu. Enam ratus tahun sebelumnya, Nabi Isa a.s. secara gamblang telah mengabarkan kedatangan Rasul bernama Ahmad (Muhammad).
Nabi Isa Alaihissallam telah menyampaikan kabar gembira ini kepada umatnya dengan menyebutkan namanya secara gamblang. Disebutkan dalam Al-Quran:
وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ
Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. [Ash Shaf / 61 : 6].
Jauh sebelum itu pula, Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. telah memanjatkan doa agar Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan Al-Kitab, hikmah, dan menyucikan umatnya.
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُࣖ ١٢٩
"Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS 2:129)
Tiga Alasan Mengapa Kita Harus Mencintai Nabi saw.
Mencintai Rasulullah saw. merupakan sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Ada tiga alasan utama mengapa kecintaan ini harus ditanamkan kuat di dalam hati:
1. Sebagai Bukti Cinta kepada Allah Swt.
Seseorang tidak bisa mengklaim mencintai Allah tanpa mengikuti sunnah Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 31:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.'"
2. Kita sangat membutuhkan syafaatnya
فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ
33. Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala),
34. pada hari itu manusia lari dari saudaranya,
35. (dari) ibu dan bapaknya,
36. serta (dari) istri dan anak-anaknya.
37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya
Kelak di hari kiamat, kondisi manusia sangatlah genting. Setiap orang akan sibuk memikirkan nasibnya sendiri, bahkan lari dari saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anaknya. Di saat tidak ada amalan yang benar-benar bisa kita andalkan—salat yang belum khusyuk, sedekah yang kurang, dan ibadah lainnya yang belum sempurna—satu-satunya harapan adalah syafaat Nabi Muhammad saw.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah yang enggan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga).” (HR. Bukhari)
Sebuah kisah asbabul wurud menceritakan seorang Arab Badui yang bertanya tentang hari kiamat kepada Nabi. Ia mengaku tidak menyiapkan banyak amal salat atau puasa, tetapi ia menyatakan sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah pun menjawab dengan kalimat yang sangat melegakan hati seluruh umatnya: "Al-mar'u ma'a man ahabba" (Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya).
3. Beliau Adalah Teladan Terbaik dalam Hidup
"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah." (QS Al-Ahzab:21)
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Rasulullah saw. memiliki keluhuran akhlak dan ketampanan rupa yang luar biasa (QS. Al-Ahzab: 21). Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki menyebutkan bahwa dari seluruh persentase ketampanan dan keindahan yang diturunkan Allah ke alam semesta, 50 persennya dianugerahkan kepada Nabi Muhammad saw., 25 persen kepada Nabi Yusuf a.s., dan 25 persen sisanya dibagikan ke seluruh alam semesta.
Cara Mencintai Nabi: Konsep "3S"
Rasa cinta kepada Rasulullah harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Terdapat tiga cara utama (3S) untuk mewujudkan cinta tersebut:
1. Selawat
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab:56).
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim).
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
Artinya, "Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan," (HR An Nasa’i)
Allah Swt. dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi, sehingga umat beriman pun diperintahkan untuk melakukan hal yang sama (QS. Al-Ahzab: 56). Membaca shalawat memiliki keutamaan yang luar biasa; satu kali bershalawat akan dibalas dengan sepuluh rahmat oleh Allah, dihapuskan sepuluh dosanya, dan diangkat derajatnya sepuluh tingkatan. Sebaliknya, Rasulullah menyebut bahwa orang yang paling pelit adalah mereka
yang ketika nama beliau disebut, enggan berselawat kepadanya.sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib dari Rasulullah saw.:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
Artinya: Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, Rasulullah bersabda, Orang yang sangat pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di sampingnya, ia tidak membaca shalawat kepadaku. (H.R. At-Tirmidzi:3469).
2. Sirah Nabawiyah
Cinta tidak akan tumbuh tanpa saling mengenal. Umat Islam harus mempelajari sejarah hidup (Sirah) Nabi Muhammad saw., mulai dari nasabnya (putra Abdullah dan Aminah, cucu Abdul Muthalib), keluarganya, nama-nama istri beliau (Khadijah, Saudah, Aisyah,dll.), hingga putra-putrinya. Dengan mengetahui suka duka perjuangan beliau, cinta dan kerinduan akan semakin tertanam kuat di dada.
3. Sunnah Nabi
Amalan wajib dijaga, yang sunnah ditambah dan dibiasakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bentuk pembuktian cinta pada Nabi saw., yang terakhir adalah dengan menjaga amalan yang wajib dan membiasakan yang sunnah. Meneladani sifat orang beriman dalam surah Al-Mu'minun, seperti khusyuk dalam salat, menjauhkan diri dari perbuatan tidak berguna, menunaikan zakat, menjaga kehormatan, memelihara amanat, dan menepati janji. Barang siapa membenci sunnah Rasulullah, maka ia tidak termasuk ke dalam golongannya.
By: Nurelah, M.Pd.